- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Artikel Terbaru
Diposting oleh
Anwar
pada tanggal
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pendahuluan
Setiap kali petir menyambar dan langit bergemuruh, manusia
diingatkan akan kekuatan luar biasa yang tersimpan di alam semesta. Fenomena
ini tampak menakutkan, tetapi sekaligus menunjukkan kebesaran dan ketelitian
hukum alam yang Allah ciptakan. Energi listrik yang tercipta di langit menjadi
bukti nyata bahwa ciptaan Allah berjalan dengan hukum dan keteraturan sempurna.
Al-Qur’an menyinggung peristiwa petir dalam beberapa ayat, salah satunya pada
QS. An-Nur [24]:43 yang menggambarkan awan, hujan, dan kilat sebagai tanda
kekuasaan-Nya. Firman Allah:
> “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian
mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk, maka kamu lihat hujan
keluar dari celah-celahnya, dan Allah menurunkan dari langit (yaitu) dari
(gumpalan) awan seperti gunung-gunung, (yang di dalamnya) ada butir-butir es;
maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan dipalingkan-Nya dari
siapa yang Dia kehendaki; kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”
(QS. An-Nur [24]:43)
Ayat ini bukan hanya deskripsi fenomena cuaca, tetapi juga refleksi ilmiah dan
spiritual yang selaras dengan temuan sains modern tentang pembentukan petir dan
muatan listrik atmosfer.
Fenomena Alam: Bagaimana Petir Terbentuk
Petir terjadi karena adanya perbedaan muatan listrik antara
awan dan bumi. Awan hujan tersusun dari miliaran tetes air dan butiran es yang
bergesekan di udara, menimbulkan pemisahan muatan listrik: muatan positif
terkumpul di bagian atas awan, sementara muatan negatif di bagian bawah.
Ketika beda potensial listrik mencapai titik tertentu — biasanya lebih dari 100
juta volt — udara yang awalnya bersifat isolator akan menjadi konduktor,
terbentuklah saluran ionisasi tempat muatan negatif berpindah menuju bumi.
Dalam sepersekian detik, energi listrik yang sangat besar dilepaskan dalam
bentuk cahaya (kilat) dan gelombang suara (guntur).
Satu sambaran petir dapat memanaskan udara hingga 30.000°C — lima kali lebih panas
dari permukaan matahari. Fenomena ini membuktikan betapa besar energi yang
Allah simpan di atmosfer bumi.
Tafsir QS. An-Nur [24]:43: Antara Awan, Es, dan Kilat
Ayat ini menggambarkan tiga lapisan peristiwa: pembentukan
awan, keluarnya hujan dan es, serta munculnya kilat. Menurut tafsir Ibnu Katsir
dan Al-Maraghi, awan yang “diarak” oleh Allah menunjukkan dinamika atmosfer —
angin yang membawa uap air dan menyusunnya menjadi awan cumulonimbus, tempat
lahirnya petir.
Kata “gunung-gunung” dalam ayat tersebut menggambarkan ketinggian dan massa
awan besar yang menjulang seperti pegunungan di langit, penuh muatan air dan
es. Dari proses ini lahirlah energi petir yang disertai kilatan cahaya yang
hampir menyilaukan pandangan.
Tafsir modern menegaskan bahwa ayat ini menggambarkan dengan sangat akurat
struktur awan petir — lapisan-lapisan udara dengan suhu dan tekanan berbeda
yang menghasilkan medan listrik kuat. Ini adalah bukti ilmiah bahwa Al-Qur’an
tidak bertentangan dengan sains, bahkan telah mengisyaratkan prinsip dasar
elektrostatika atmosfer jauh sebelum manusia menemukannya.
Keteraturan Energi Langit dalam Pandangan Sains
Sains modern memandang petir sebagai bagian penting dari
sistem keseimbangan listrik bumi. Tanpa petir, distribusi muatan listrik antara
atmosfer dan permukaan bumi akan menjadi tidak stabil. Peneliti dari National
Atmospheric Research Center (2023) menemukan bahwa setiap hari terjadi sekitar
8 juta sambaran petir di seluruh dunia, yang membantu menjaga keseimbangan ion
global.
Selain itu, petir berperan penting dalam siklus nitrogen. Energi panas dari
petir memecah molekul nitrogen di udara, memungkinkan terbentuknya senyawa
nitrat yang diserap oleh tanaman — inilah cara Allah menyediakan unsur hara
melalui energi langit.
“Dan Dia menurunkan air dari langit untuk menghidupkan bumi setelah matinya.”
(QS. Ar-Rum [30]:24) Ayat ini secara simbolis dan ilmiah berkaitan dengan peran
petir dalam menyuburkan bumi melalui proses kimiawi yang Allah ciptakan.
Integrasi Tauhid dan Sains: Energi Sebagai Amanah Allah
Setiap kali kilat menyambar, manusia diingatkan bahwa energi
adalah milik Allah. Petir bukan sekadar fenomena alam, melainkan bentuk
manifestasi qudrah (kekuasaan) Allah yang luar biasa. Dari energi inilah
manusia belajar menciptakan listrik dan teknologi, namun penggunaannya tetap
harus berlandaskan etika dan kemaslahatan.
Islam menempatkan ilmu sebagai jalan menuju iman. Petir mengajarkan bahwa di
balik kekuatan fisik terdapat hikmah spiritual — bahwa seluruh energi di alam
ini bekerja tunduk pada hukum Allah. Jika manusia memanfaatkannya untuk
kebaikan, maka energi itu menjadi rahmat; jika disalahgunakan, ia bisa menjadi
sebab kehancuran.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran
[3]:190)
Nilai Edukatif dan Pembelajaran IPA Islami
Fenomena petir sangat menarik untuk dijadikan bahan
pembelajaran IPA bernilai tauhid di madrasah. Guru dapat mengajak siswa
melakukan simulasi sederhana tentang pembentukan muatan listrik menggunakan
balon dan wol untuk meniru gesekan awan.
Siswa juga dapat diminta mencari hubungan antara fenomena alam dan ayat-ayat
Al-Qur’an. Misalnya, dengan menghubungkan QS. An-Nur [24]:43 dengan hukum
Coulomb dan proses ionisasi udara. Kegiatan ini menumbuhkan kesadaran bahwa
sains tidak hanya menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, tetapi juga mengapa
Allah menciptakannya demikian.
Pendekatan STEM-Tauhid seperti ini membentuk siswa yang berpikir ilmiah
sekaligus beriman, sesuai dengan misi pendidikan Islam yang menyatukan akal dan
hati.
Refleksi Islam
Ketika manusia menyaksikan petir, ia diingatkan tentang
keterbatasan dirinya di hadapan kekuasaan Allah. Suara guntur yang menggema
adalah tanda kebesaran, sementara cahaya kilat adalah isyarat akan kekuatan
energi Ilahi.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Petir adalah cambuk dari cambuk-cambuk Allah yang
dengannya Ia memperingatkan hamba-hamba-Nya.” (HR. Thabrani)
Refleksi ini mengajarkan rasa takut sekaligus takjub kepada Sang Pencipta.
Dalam setiap sambaran petir tersimpan pelajaran bahwa alam tunduk sepenuhnya
kepada hukum Allah, dan manusia harus belajar darinya: disiplin, seimbang, dan
tidak melampaui batas.
Kesimpulan
Petir adalah fenomena yang menggabungkan sains, energi, dan
spiritualitas. QS. An-Nur [24]:43 menggambarkan proses alam ini dengan detail
yang menakjubkan, menunjukkan bahwa wahyu dan ilmu pengetahuan tidak pernah
bertentangan.
Energi listrik di langit adalah bagian dari sistem keseimbangan ciptaan Allah. Ia
menjadi tanda kebesaran-Nya sekaligus pengingat bagi manusia untuk menggunakan
ilmu dengan tanggung jawab. Dari awan yang bergesekan hingga kilat yang
menyambar, semuanya adalah bukti keteraturan dan kebijaksanaan Sang Pencipta.
Artikel lintas kategori yang disarankan untuk dibaca:
-
Fenomena Pasang Surut Air Laut dalam Sains dan Al-Qur’an → Dinamika gravitasi bulan dan bumi.
“Gelombang laut pun tunduk pada keseimbangan yang Allah tetapkan.” -
Rotasi Bumi dalam Sains dan Al-Qur’an → Pergantian siang dan malam dalam hukum fisika.
“Keteraturan waktu adalah tanda kekuasaan Allah.” -
Gunung sebagai Pasak Bumi → Geologi dan stabilitas bumi.
“Gunung menjaga bumi tetap kokoh di bawah kehendak-Nya.”
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.
Baca Profil Lengkap →.png)
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Mari berdiskusi untuk menambah ilmu dan manfaat bersama