Artikel Terbaru

Gunung Sebagai Pasak Bumi dalam Perspektif Geologi dan Al-Qur’an

 



Pendahuluan

Gunung merupakan salah satu ciptaan Allah yang paling menakjubkan, menjadi simbol keagungan, keteguhan, dan keseimbangan alam. Dalam pandangan sains modern, gunung adalah hasil proses geologi kompleks yang melibatkan pergerakan lempeng bumi dan aktivitas vulkanik. Namun dalam perspektif Al-Qur’an, gunung bukan hanya struktur fisik, tetapi juga ayat kauniyah—tanda kekuasaan dan kebijaksanaan Allah SWT. Artikel ini membahas keterpaduan antara geologi dan wahyu Ilahi dalam menjelaskan konsep 'gunung sebagai pasak bumi', serta bagaimana pemahaman ini memperkuat keimanan dan kesadaran ekologis manusia.

Teks dan Tafsir Al-Qur’an

Allah berfirman dalam QS. An-Naba’ [78]: 6–7: 'Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?'. Dalam bahasa Arab, kata 'awtād' berarti pasak atau pancang yang menstabilkan sesuatu agar tidak goyah. Tafsir Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai bukti fungsi gunung yang menahan bumi dari guncangan besar, sementara Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an melihatnya sebagai simbol keseimbangan ciptaan Allah. Ilmuwan Muslim kontemporer seperti Dr. Zaghloul El-Naggar menegaskan bahwa makna ayat ini selaras dengan temuan ilmiah modern. Penelitian geofisika membuktikan bahwa gunung memiliki akar dalam yang menembus litosfer, berfungsi menjaga kestabilan kerak bumi, sebuah konsep yang dikenal sebagai isostasi.

Perspektif Geologi Modern

Secara ilmiah, gunung terbentuk akibat aktivitas tektonik dan vulkanik. Ketika dua lempeng bumi bertumbukan, tekanan besar menyebabkan lapisan kerak terangkat membentuk pegunungan lipatan seperti Himalaya. Gunung berapi seperti Merapi atau Rinjani terbentuk karena dorongan magma dari mantel bumi menuju permukaan. Bagian dalam gunung memiliki struktur yang dikenal sebagai akar gunung—bagian ini menancap jauh ke bawah dan membantu menjaga keseimbangan massa bumi. Prinsip isostasi menjelaskan bahwa kerak bumi akan berusaha mencapai keseimbangan gravitasi; semakin tinggi gunung, semakin dalam pula akarnya. Fakta ini menegaskan kebenaran ilmiah ayat Al-Qur’an tentang gunung sebagai 'pasak' bumi.

Fungsi Ekologis dan Kemanusiaan

Gunung memiliki peran ekologis yang vital. Ia berfungsi sebagai penampung dan pengatur air, sumber sungai, serta penjaga kestabilan iklim mikro. Vegetasi di pegunungan menahan erosi dan memungkinkan air hujan meresap menjadi cadangan air tanah. Selain itu, gunung merupakan habitat bagi berbagai flora dan fauna yang menopang keanekaragaman hayati. Namun, eksploitasi berlebihan seperti penambangan liar dan deforestasi mengganggu keseimbangan ini, menyebabkan longsor dan banjir. Islam menegaskan dalam QS. Al-A’raf [7]:56 agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi, termasuk dengan merusak gunung dan hutan yang menjadi bagian penting dari sistem kehidupan.

Harmoni Sains dan Wahyu

Tidak ada pertentangan hakiki antara sains dan wahyu. Sains menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, sementara wahyu menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Al-Qur’an bukanlah buku geologi, tetapi mengandung prinsip-prinsip kebenaran universal yang mendorong manusia berpikir dan meneliti alam semesta. Dengan memahami gunung dari dua sisi ini, manusia diajak untuk tidak hanya mengagumi keindahan alam, tetapi juga mensyukuri kebesaran Sang Pencipta. Integrasi antara ilmu pengetahuan dan iman ini menjadi dasar pendidikan sains Islam modern, di mana fenomena alam digunakan sebagai media pembelajaran tauhid.

Refleksi Islam

Gunung dalam pandangan Islam merupakan simbol kekuatan dan keteguhan iman. Sebagaimana gunung menjaga kestabilan bumi, iman yang kuat menjaga kestabilan jiwa manusia. Allah berfirman dalam QS. Al-Ghasyiyah [88]:19, 'Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan?'. Ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan ciptaan-Nya. Dalam QS. Ar-Ra’d [13]:3, Allah menyebut bahwa Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar manusia dapat hidup dengan stabil. Ayat-ayat ini menegaskan keterkaitan antara keseimbangan fisik bumi dan keseimbangan spiritual manusia. Sebagai khalifah di bumi, manusia dituntut menjaga amanah ekologis dengan tidak merusak alam, melainkan mengelolanya secara bijak dan penuh tanggung jawab. Dalam konteks pendidikan, guru sains Islam dapat mengaitkan fenomena gunung dengan nilai-nilai spiritual, sehingga siswa belajar bukan hanya memahami hukum alam, tetapi juga menghayati kebesaran Allah melalui sains.

Kesimpulan

Gunung adalah manifestasi nyata dari harmoni antara ilmu pengetahuan dan wahyu. Deskripsi Al-Qur’an tentang gunung sebagai 'pasak bumi' terbukti relevan dengan temuan geologi modern yang menunjukkan fungsi gunung dalam menjaga kestabilan kerak bumi. Pemahaman ini memperkuat keyakinan bahwa tidak ada pertentangan antara sains dan wahyu karena keduanya bersumber dari Allah SWT. Dengan demikian, manusia dituntut untuk bersyukur, menjaga lingkungan, dan menjadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.


Artikel lintas kategori yang disarankan untuk dibaca:
  1. Fenomena Pasang Surut Air Laut dalam Sains dan Al-Qur’an → keseimbangan gravitasi Bulan–Bumi.
    “Gerak langit dan laut mencerminkan keteraturan ciptaan Allah.”
  2. Proses Daur Air dari Penguapan hingga Hujan → siklus kehidupan bumi.
    “Air yang turun dari langit adalah rahmat yang menjaga kehidupan.”
  3. Model Pembelajaran Sains Terpadu Bernilai Islam → inspirasi edukasi integratif.
    “Mengaitkan sains dengan nilai tauhid menumbuhkan akhlak ekologis.”
Anwar Syam - Penulis Sains Islam Edu
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami

Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.

Baca Profil Lengkap →
🏠

Komentar