Artikel Terbaru

Berjalan Kaki Setelah Makan: Sunnah Nabi dan Bukti Ilmiah Modern

 


Pendahuluan

Dalam gaya hidup modern yang serba cepat, banyak orang terbiasa duduk atau berbaring setelah makan. Padahal, dalam sunnah Rasulullah ﷺ terdapat kebiasaan yang sangat sederhana namun penuh hikmah: **berjalan kaki setelah makan**. Rasulullah dikenal tidak langsung tidur atau duduk lama setelah makan, melainkan melakukan aktivitas ringan, seperti berbincang atau berjalan perlahan.

Kebiasaan ini bukan hanya bernilai adab, tetapi juga memiliki manfaat ilmiah yang sangat luas. Penelitian medis dari Harvard Health (2023) menunjukkan bahwa **berjalan kaki 10 menit setelah makan membantu mempercepat pencernaan dan menstabilkan kadar gula darah**. Prinsip yang diajarkan Nabi 14 abad lalu kini terbukti sebagai gaya hidup yang paling direkomendasikan oleh sains modern.

Sunnah Nabi dan Adab Setelah Makan

Dalam kitab *Ath-Thibb An-Nabawi* karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dijelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah makan dalam keadaan terburu-buru dan tidak langsung tidur setelah makan. Beliau biasa berdiri, mencuci tangan, lalu berbicara sejenak atau berjalan pelan. Ini menjadi dasar bagi etika kesehatan Islam yang mendorong aktivitas ringan setelah makan.

Dalam riwayat disebutkan: 
> “Perut adalah rumah penyakit, dan pencegahan adalah pokok pengobatan.” (*HR. Ad-Dailami*)

Sunnah ini sejalan dengan konsep keseimbangan (wasathiyah) dalam Islam, bahwa makan tidak sekadar memenuhi nafsu, tetapi juga menjaga amanah tubuh. Berjalan setelah makan menjadi simbol moderasi — tidak berlebihan dalam makan, tidak malas setelah kenyang.

Kajian Fisiologi Modern: Apa yang Terjadi Setelah Kita Makan?

Secara fisiologis, setelah makan tubuh akan meningkatkan aliran darah ke saluran pencernaan untuk membantu proses pencernaan. Ketika seseorang langsung duduk atau berbaring, distribusi darah menjadi tidak optimal sehingga dapat menyebabkan rasa begah, refluks asam lambung, bahkan gangguan metabolisme.

Menurut penelitian yang diterbitkan di *Nature Metabolism* (2022), **aktivitas ringan setelah makan, seperti berjalan santai selama 10–15 menit, dapat mempercepat emptying time lambung** — waktu yang dibutuhkan makanan untuk dicerna dan dikeluarkan dari perut. Hal ini membantu mengurangi risiko *gastroesophageal reflux disease* (GERD) yang kini banyak diderita masyarakat urban.

Manfaat Medis: Bukti dari Harvard dan WHO (2020–2025)

1. **Stabilisasi Gula Darah** 
   Studi Harvard Health (2023) menunjukkan bahwa berjalan kaki 10 menit setelah makan menurunkan lonjakan glukosa hingga 22%. Ini sangat penting untuk mencegah resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

2. **Meningkatkan Fungsi Pencernaan** 
   WHO (2021) menyebutkan bahwa aktivitas ringan setelah makan membantu kontraksi usus halus bekerja optimal sehingga menghindarkan sembelit dan perut kembung.

3. **Menurunkan Risiko Penyakit Jantung** 
   Jalan kaki rutin 15–30 menit per hari dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan sirkulasi darah.

4. **Keseimbangan Psikologis** 
   Aktivitas ringan juga menurunkan hormon stres kortisol dan meningkatkan dopamin, sehingga seseorang merasa lebih tenang dan bahagia setelah makan. Inilah harmoni antara tubuh dan jiwa yang dicontohkan Rasulullah.

Integrasi Nilai Islam: Prinsip Wasathiyah dalam Gaya Hidup

Islam selalu menekankan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Prinsip ini dikenal sebagai *wasathiyah*. Dalam konteks makan dan bergerak, Islam mengajarkan umat untuk tidak berlebihan.

Allah berfirman: 
> “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]:31)

Berjalan setelah makan menjadi wujud nyata dari keseimbangan itu. Tubuh mendapat waktu untuk mencerna, sementara pikiran diberi ruang untuk bersyukur. Rasulullah ﷺ sendiri sering menjadikan aktivitas ringan sebagai bentuk dzikir: berjalan sambil beristighfar atau mengingat nikmat Allah.

Refleksi Ilmiah dan Spiritual

Berjalan kaki setelah makan bukan hanya aktivitas jasmani, tetapi juga latihan spiritual. Tubuh manusia adalah sistem biologis yang bekerja atas izin Allah. Ketika kita berjalan, detak jantung meningkat sedikit, oksigen bertambah, dan sistem saraf parasimpatik aktif, membantu pencernaan berjalan lebih efisien.

Sains modern menyebut ini sebagai fase *active digestion*, sedangkan Islam menyebutnya sebagai adab — bentuk penghargaan terhadap tubuh. Dengan berjalan, manusia menghormati ciptaan Allah dalam dirinya, tidak menelantarkan tubuh dengan kebiasaan malas atau berlebihan.

Seorang ulama besar, Imam Asy-Syafi’i, berkata: 
> “Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.” 
Begitu pula pengetahuan tanpa penerapan gaya hidup sehat akan sia-sia. Maka, mengikuti sunnah berjalan setelah makan bukan sekadar menjaga tubuh, tapi juga mengamalkan ilmu dengan kesadaran spiritual.

Nilai Edukatif dalam Pembelajaran Sains Islami

Guru madrasah dapat memanfaatkan topik ini untuk menanamkan integrasi antara sains dan Islam. Misalnya, pada pelajaran IPA tentang sistem pencernaan, siswa diajak melakukan eksperimen kecil: membandingkan denyut nadi setelah duduk dan setelah berjalan ringan 10 menit.

Kemudian siswa diminta merefleksikan hadis Nabi dan hasil pengamatan ilmiah mereka. Dengan cara ini, mereka belajar bahwa **sains bukan hanya teori, tetapi juga sarana memahami kebijaksanaan sunnah Rasulullah.**

Pendekatan ini juga memperkuat nilai *CINTA* (Critical, Innovative, Natural, Tauhidic, Appreciative) dalam pembelajaran sains Islami.

Refleksi Akhir: Meneladani Gaya Hidup Rasulullah

Rasulullah ﷺ tidak pernah hidup berlebihan. Beliau makan secukupnya, berjalan dengan tenang, dan menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah. Dalam sebuah hadis disebutkan: 
> “Satu langkah menuju kebaikan akan dicatat sebagai pahala.” (HR. Muslim)

Berjalan setelah makan, walau sederhana, adalah bentuk ibadah kecil yang mengandung hikmah besar. Ia memperkuat tubuh, menenangkan jiwa, dan mendekatkan manusia kepada sunnah.

Sains modern hanya menegaskan kebenaran yang telah diajarkan Rasulullah berabad-abad lalu. Setiap langkah setelah makan menjadi simbol harmoni antara ilmu, iman, dan kesehatan.

Kesimpulan

Berjalan kaki setelah makan bukan sekadar kebiasaan sehat, tetapi manifestasi dari ajaran Islam tentang keseimbangan. Sunnah Rasulullah ﷺ terbukti secara ilmiah bermanfaat bagi sistem pencernaan, metabolisme, dan keseimbangan psikologis.

Di era modern, ketika banyak orang hidup pasif di depan layar, meneladani kebiasaan sederhana ini menjadi bentuk nyata dari *revitalisasi sunnah* dan *implementasi sains Islami dalam gaya hidup.*

Setiap langkah yang diambil setelah makan bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menumbuhkan kesadaran: bahwa ilmu dan ibadah selalu berjalan beriringan.

Artikel lintas kategori yang disarankan untuk dibaca:
  1. Sains di Balik Pola Hidup Sehat Rasulullah → Gaya hidup Rasulullah dan bukti medis modern.
    “Kesehatan adalah amanah yang harus dijaga dengan ilmu dan iman.”
  2. Tidur Siang (Qailulah) dan Kesehatan → Sunnah istirahat dan ritme biologis tubuh.
    “Istirahat seimbang menghidupkan semangat ibadah.”
  3. Zero Waste dalam Kehidupan Islami → Etika ekologis dan tanggung jawab umat.
    “Islam mengajarkan kebersihan dan keberlanjutan sebagai bentuk ibadah.”
Anwar Syam - Penulis Sains Islam Edu
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami

Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.

Baca Profil Lengkap →
🏠

Komentar