- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Artikel Terbaru
Diposting oleh
Anwar
pada tanggal
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pendahuluan
Dalam
kehidupan yang serba cepat, jam kerja yang memanjang dan notifikasi tanpa henti
sering memangkas jatah istirahat harian. Banyak orang mengira tidur siang
adalah kemewahan atau bahkan kemalasan, padahal tradisi Islam sejak masa Nabi ﷺ
telah mengenalkan qailulah—istirahat singkat di siang hari—sebagai bagian dari
ritme hidup yang seimbang. Sunnah ini diwariskan bukan hanya untuk kenyamanan,
melainkan untuk menjaga ketajaman akal, kesehatan emosi, dan kesiapan ruhani
dalam beribadah.
Rasulullah
bersabda, “Tidurlah di siang hari, karena setan tidak tidur siang.” (HR.
Thabrani). Terjemahan singkat ini mengandung isyarat kebijaksanaan: manusia
memiliki kebutuhan biologis akan jeda yang tepat di tengah hari. Ketika
neurosains modern meneliti tidur siang, data empiris menunjukkan manfaat yang
sangat konkret—mulai dari konsolidasi memori, penurunan hormon stres, hingga
perbaikan suasana hati. Artikel ini menghubungkan temuan ilmiah mutakhir dengan
ajaran Islam, lalu menerjemahkannya menjadi panduan praktis yang aplikatif
untuk pelajar, pekerja, dan keluarga Muslim modern.
Pembahasan Ilmiah
1) Apa yang Terjadi pada Otak saat Qailulah?
Secara
neurologis, tidur siang singkat (10–30 menit) memberi kesempatan bagi
hippocampus untuk “mengosongkan buffer” memori kerja. Dalam jangka waktu pendek
itu, jejak memori baru yang tersimpan sementara dialihkan ke neokorteks untuk
diproses lebih stabil, sehingga kapasitas kerja kognitif setelah bangun menjadi
lebih lega. Mekanisme ini menjelaskan mengapa setelah tidur siang, seseorang
merasa “otaknya lapang kembali”, mudah fokus, dan lebih cepat menangkap konsep
baru. Pada saat bersamaan, sistem saraf otonom bergeser ke dominasi
parasimpatik sehingga detak jantung dan tekanan darah menurun—memberi efek
menenangkan yang terukur.
Sejumlah
telaah literatur 2020–2024 melaporkan bahwa nap singkat meningkatkan ketepatan
atensi berkelanjutan, kecepatan respons, dan akurasi memori episodik. Pada
populasi dewasa muda, manfaat ini tampak bahkan setelah 90 menit deprivasi
tidur malam moderat; sedangkan pada pekerja shift, tidur siang singkat terbukti
mengurangi kelelahan dan kesalahan operasional. Semua ini konsisten dengan
hipotesis bahwa jeda singkat di tengah hari menstabilkan homeostasis
tidur-bangun dan meredam akumulasi adenosin di otak yang memicu rasa lelah
mental.
2) Durasi Ideal, Waktu Terbaik, dan Sleep Inertia
Durasi
ideal tidur siang adalah 10–30 menit. Di bawah 10 menit, manfaatnya minimal; di
atas 30–45 menit, risiko sleep inertia—rasa “berat” dan kebingungan setelah
bangun—meningkat karena otak memasuki tahap tidur yang lebih dalam. Waktu
terbaik berada di rentang awal hingga pertengahan siang (sekitar
sebelum–sesudah zuhur), ketika siklus sirkadian secara alami membuat
kewaspadaan menurun. Penempatan qailulah pada rentang ini bukan kebetulan: ia
sesuai dengan jam biologis manusia serta ritme ibadah harian.
Sleep
inertia dapat diminimalkan dengan beberapa strategi: (1) batasi durasi; (2)
gunakan alarm; (3) hindari tidur siang sangat terlambat agar tidak mengganggu
tidur malam; (4) paparkan diri pada cahaya alami dan gerakan fisik ringan 1–2
menit setelah bangun. Secangkir air putih atau wudu membantu transisi dari
keadaan parasimpatik yang menenangkan menuju kesiagaan yang produktif.
3) Manfaat Kognitif dan Emosional yang Terukur
Manfaat
kognitif dari qailulah mencakup perbaikan memori deklaratif (fakta, konsep),
memori prosedural (keterampilan), dan fungsi eksekutif (perencanaan,
pengambilan keputusan). Pada mahasiswa, nap singkat sebelum sesi belajar
intensif berkorelasi dengan peningkatan performa kuis dan retensi materi 24 jam
kemudian. Pada pekerja kreatif, tidur siang meningkatkan keluwesan
berpikir—kemampuan mengaitkan ide-ide yang tampak tidak berhubungan. Secara
emosional, jeda siang menurunkan gejala iritabilitas, menstabilkan mood, dan
menekan kadar kortisol sehingga persepsi stres menurun.
4) Qailulah, Ritme Sirkadian, dan Kesehatan Fisik
Ritme
sirkadian mengatur banyak fungsi—dari suhu inti tubuh, sekresi hormon
melatonin, hingga fluktuasi kewaspadaan. Ketika qailulah diselaraskan dengan
ritme ini, efeknya bukan hanya pada otak, tetapi juga pada tubuh secara
keseluruhan: tekanan darah lebih stabil, sensitivitas insulin membaik, dan
respon imun menjadi lebih seimbang. Bagi kelompok risiko seperti ibu menyusui,
pekerja malam, atau guru dengan beban vokal tinggi, tidur siang singkat dapat
menjadi intervensi sederhana untuk menjaga kesehatan fisik tanpa biaya.
5) Risiko dan Kontraindikasi: Kapan Harus Berhati-hati?
Tidak
semua orang merasakan manfaat yang sama. Pada sebagian individu dengan insomnia
kronis, tidur siang terlalu lama dapat memperburuk kesulitan tidur malam.
Penderita sleep apnea perlu mendapatkan penanganan medis utama terlebih dahulu.
Selain itu, tidur siang yang dilakukan dekat waktu magrib berpotensi mengganggu
tidur malam. Prinsipnya: jadikan qailulah sebagai “booster”, bukan pengganti
tidur malam; dan konsultasikan pada tenaga kesehatan bila memiliki kondisi
medis khusus.
Integrasi Nilai Islam
1) Landasan Teks: Al-Qur’an dan Hadis (Terjemahan)
Al-Qur’an
menegaskan, “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. An-Naba’ [78]: 9).
Ayat-ayat lain menggambarkan malam sebagai waktu untuk ketenangan dan siang
untuk berusaha (QS. Al-Qashash [28]:73). Dalam hadis, Nabi bersabda, “Tidurlah
di siang hari, karena setan tidak tidur siang.” (HR. Thabrani). Terjemahan ini
memperlihatkan bahwa Islam menganjurkan jeda pemulihan di siang hari sebagai
bagian dari manajemen energi yang beradab.
2) Tafsir dan Hikmah: Ibn Qayyim & Quraish Shihab
Ibn
Qayyim al-Jauziyyah dalam Zād al-Ma‘ād memotret kebiasaan Rasulullah yang
menjaga ritme harian: bangun malam untuk ibadah dengan kualitas terbaik, lalu
menempatkan qailulah sebagai penyangga energi agar siang tetap produktif.
Tafsir al-Misbah menekankan makna “tidur” sebagai nikmat yang memugar kesadaran
manusia, sehingga tidur bukanlah sekadar “memutus aktivitas”, tetapi upaya
sadar menjaga amanah tubuh. Keduanya berpangkal pada konsep keseimbangan
(wasathiyyah): bekerja keras iya, tetapi tidak memaksa diri melampaui batas
fitrah.
3) Sunnah yang Pro-Ilmu: Sains sebagai Ayat Kauniyah
Qailulah
menunjukkan bagaimana sunnah memfasilitasi akal untuk bekerja optimal. Ilmu
pengetahuan—dalam hal ini neurosains—adalah ayat kauniyah yang memperjelas
hikmah praktis dari tuntunan agama. Ketika nap singkat terbukti memperkuat
memori, umat Islam melihat koherensi antara perintah menjaga tubuh dan dorongan
menuntut ilmu. Dengan demikian, penerapan qailulah bukan sekadar pelestarian
tradisi, tetapi strategi ilmiah untuk menjadi hamba yang lebih efektif.
Nilai Edukatif
1) Implementasi di Sekolah/Madrasah
Sekolah
dapat merancang jeda 15–20 menit sebelum atau sesudah zuhur yang tenang, sejuk,
dan minim distraksi. Guru IPA menjelaskan fisiologi tidur, ritme sirkadian, dan
hormon; guru agama menautkan dengan ayat dan hadis. Siswa diajak melakukan
refleksi sederhana: mencatat perbedaan konsentrasi sebelum dan sesudah nap
selama satu pekan. Data ini kemudian didiskusikan sebagai mini-riset—membangun
literasi sains sekaligus adab pengelolaan energi.
2) Implementasi di Rumah/Tempat Kerja
Di
rumah, orang tua bisa membuat “aturan hening” sekitar tengah hari selama 20
menit. Di kantor atau pabrik, ruang istirahat yang bersih, ventilatif, dan aman
menjadi investasi produktivitas. Budaya rapat yang menghormati waktu
zuhur—disusul jeda singkat—terbukti mengurangi kelelahan sore hari. Prinsipnya
sederhana: kualitas jam kerja meningkat bila jeda pemulihan dikelola dengan
benar.
3) Protokol Qailulah Praktis (Checklist)
•
Durasi: 10–30 menit. Gunakan alarm.
• Waktu: sebelum/sekitar zuhur; hindari terlalu sore.
• Lingkungan: redup, sejuk, hening; gunakan masker mata/earplug jika perlu.
• Posisi: berbaring miring atau setengah-rebah di kursi ergonomis.
• Transisi bangun: minum air, wudu, dan berjalan ringan 1–2 menit.
• Hindari kafein 3–4 jam sebelum qailulah agar mudah memulai nap.
• Tidur malam tetap prioritas: 7–9 jam bagi dewasa.
Refleksi Islam
Pada
akhirnya, qailulah mengingatkan kita bahwa Islam tidak menuhankan produktivitas
angka, melainkan produktivitas yang beradab. Kita diajak menata ritme: ada
waktu belajar dan bekerja, ada waktu meneduhkan diri. Ketika nap singkat
menjadi jembatan yang membuat shalat zuhur lebih khusyuk dan sesi belajar siang
lebih fokus, kita sedang mempraktikkan ihsan dalam manajemen energi—menempatkan
sesuatu pada tempatnya, dengan niat yang benar.
Refleksi
lain yang penting adalah kesadaran ekologis. Tidur siang singkat tidak
membutuhkan alat, listrik berlebih, atau biaya tambahan; ia ramah lingkungan
dan ramah pikiran. Dalam kultur yang serba terhubung, kemampuan “memutus
koneksi” sejenak justru menjadi bentuk kecerdasan baru. Qailulah adalah seni
beristirahat yang menumbuhkan syukur: kita mengakui keterbatasan, lalu mengisi
ulang diri untuk kembali bermanfaat.
Kesimpulan
Qailulah—tidur
siang singkat—adalah sunnah yang secara empirik terbukti bermanfaat bagi otak,
emosi, dan kesehatan fisik. Manfaatnya paling optimal bila durasi 10–30 menit
dan waktunya diselaraskan dengan ritme sirkadian, terutama sekitar zuhur. Dalam
perspektif Islam, qailulah bukan sekadar istirahat, melainkan manajemen energi
yang menguatkan ibadah dan kerja. Dengan menerapkan protokol sederhana,
sekolah, keluarga, dan tempat kerja dapat memetik dampak nyata: fokus
meningkat, stres menurun, dan kualitas hidup membaik.
Anjuran
Nabi—“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu” (HR. Bukhari)—menggarisbawahi
etika dasar: menjaga tubuh adalah bagian dari ketaatan. Menghidupkan qailulah
berarti meneladani wasathiyyah Rasulullah ﷺ, mengakui hikmah wahyu, sekaligus
memanfaatkan temuan ilmu modern untuk menjadi hamba yang lebih sehat, cerdas,
dan efektif.
Daftar Pustaka
Harvard
Medical School. (2022). Daytime naps and cognitive performance: a review.
Journal of Sleep Research.
National Institutes of Health. (2023). Short naps and memory consolidation:
evidence from controlled trials.
Quraish Shihab. (2005). Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
University of Tokyo. (2021). Circadian dips and optimal nap timing in adults.
Tokyo Journal of Medicine.
World Health Organization. (2024). Sleep and Health in the Post‑Digital Era:
Global guidance for workplaces and schools.
Ibn Qayyim al‑Jauziyyah. (tt.). Zād al‑Ma‘ād. Kairo: Dar al‑Hadits.
Islamic University studies on student attention and brief naps (2022).
Proceedings on Islamic Education and Health.
Artikel lintas kategori yang disarankan untuk dibaca:
-
Sains di Balik Pola Hidup Sehat Rasulullah → Gaya hidup seimbang dalam sunnah.
“Meneladani Rasulullah berarti menata pola hidup dengan ilmu.” -
Mikrobiologi: Kehidupan Mikro dalam Al‑Qur’an → Sains kehidupan & ayat kauniyah.
“Tanda kebesaran Allah hadir bahkan dalam sel.” -
Etika Digital dalam Perspektif Islam → Tantangan moral di era teknologi.
“Teknologi tanpa akhlak hanyalah kekosongan nilai.”
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.
Baca Profil Lengkap →.png)
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Mari berdiskusi untuk menambah ilmu dan manfaat bersama