- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Artikel Terbaru
Diposting oleh
Anwar
pada tanggal
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pendahuluan
Lahan
gambut merupakan salah satu ekosistem paling penting di Indonesia. Namun, dalam
beberapa dekade terakhir, ribuan kilometer kanal drainase dibangun oleh
industri perkebunan untuk mengeringkan lahan gambut. Kanal ini memang
mempermudah penanaman kelapa sawit atau akasia, tetapi secara ekologis telah
merusak sistem hidrologi alami dan meningkatkan risiko kebakaran serta banjir
musiman.
Menurut
laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2025), lebih dari 3
juta hektare lahan gambut di Indonesia mengalami degradasi berat akibat
drainase industri. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga terhadap
kehidupan sosial masyarakat yang bergantung pada lahan gambut sebagai sumber
air, sumber mata pencaharian, dan penyangga iklim lokal.
Fenomena
ini menjadi perhatian dunia karena Indonesia memiliki sekitar 36% stok karbon
gambut tropis dunia. Dalam perspektif Islam, kerusakan alam seperti ini tidak
hanya persoalan ekologi, tetapi juga persoalan moral dan amanah manusia sebagai
khalifah di bumi. Bumi yang rusak akibat tangan manusia adalah cerminan
ketidakseimbangan antara kebutuhan dan keserakahan.
Pembahasan Ilmiah
1) Fungsi Hidrologis Lahan Gambut
Secara
alami, lahan gambut berfungsi sebagai spons air raksasa. Ia menyerap air hujan
pada musim basah dan melepaskannya perlahan pada musim kering. Struktur gambut
yang kaya bahan organik mampu menahan hingga 13 kali beratnya dalam air. Karena
itulah, daerah gambut jarang mengalami kekeringan ekstrem maupun banjir bila
dalam kondisi alami.
Namun,
saat industri membangun kanal untuk mengeringkan lahan, permukaan air tanah
turun drastis hingga di bawah satu meter. Menurut Journal of Hydrology (2023),
penurunan muka air tanah lebih dari 40 cm per tahun menyebabkan oksidasi bahan
organik dan melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Inilah yang menjadikan
lahan gambut kering mudah terbakar — sumber utama kabut asap lintas negara di
Asia Tenggara.
2) Dampak Drainase Industri terhadap Ekosistem
Drainase
industri menyebabkan perubahan besar dalam siklus air lokal. Kanal buatan
memotong jalur air alami yang seharusnya menampung dan menahan air hujan.
Akibatnya, air hujan cepat mengalir ke sungai besar dan mengeringkan lapisan
gambut. Proses ini dikenal sebagai “over-drainage.”
Menurut
laporan FAO (2024), over-drainage meningkatkan risiko penurunan muka tanah
(subsidence) hingga 3–5 cm per tahun. Dalam jangka panjang, ini menyebabkan
hilangnya fungsi ekosistem, masuknya air laut ke wilayah pedalaman (intrusi),
dan banjir di musim hujan. Sementara di musim kemarau, lahan menjadi terlalu
kering dan mudah terbakar. Fenomena ini menunjukkan bagaimana intervensi
manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan hidrologi menimbulkan siklus
bencana.
3) Data Lapangan dan Kasus Aktual
Studi
Mongabay (2025) menemukan bahwa 70% kanal drainase di Kalimantan Tengah
dibangun tanpa kajian hidrologis memadai. Kanal industri kelapa sawit di area
gambut tidak memiliki sistem penutup air, sehingga air terus mengalir keluar
bahkan saat curah hujan tinggi. Akibatnya, permukaan tanah turun dan vegetasi
alami seperti sagu, pandan, serta jelutung mati perlahan.
Dampak
sosial juga tidak kalah besar. Warga di sekitar kawasan gambut kehilangan
sumber air bersih karena air permukaan menjadi asam dan tercemar logam berat.
Ekonomi lokal yang bergantung pada hasil hutan non-kayu seperti madu, ikan
gabus, dan rotan turut menurun. Semua ini menggambarkan bahwa kerusakan alam
tidak pernah berdiri sendiri; ia menular ke aspek sosial, ekonomi, dan
spiritual masyarakat.
4) Perubahan Iklim dan Emisi Karbon
Lahan
gambut yang dikeringkan melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar. Data Global
Peatland Initiative (2024) menyebutkan bahwa setiap hektare gambut yang
dikeringkan melepaskan 55 ton karbon per tahun. Jika dikalikan jutaan hektare,
angka ini menjadikan Indonesia salah satu kontributor emisi karbon terbesar di
dunia akibat deforestasi dan drainase.
Proses
dekomposisi bahan organik akibat paparan udara mempercepat reaksi oksidasi.
Selain CO₂, gas metana (CH₄) juga dilepaskan. Dalam jangka panjang, ini
meningkatkan efek rumah kaca dan mempercepat pemanasan global. Ironisnya, lahan
gambut yang semula berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink), kini
berubah menjadi sumber karbon (carbon source).
Integrasi Nilai Islam
Islam
memandang bumi sebagai amanah, bukan milik mutlak manusia. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah
memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf [7]: 56). Ayat ini menegaskan bahwa manusia
memiliki tanggung jawab moral untuk memelihara bumi agar tetap dalam
keseimbangan yang telah ditetapkan Allah.
Tafsir
Al-Misbah menjelaskan bahwa larangan merusak bumi meliputi seluruh bentuk
perilaku yang menimbulkan ketidakseimbangan ekologis. Drainase berlebihan yang
merusak hidrologi gambut termasuk dalam kategori fasad (kerusakan). Sementara
itu, konsep khalifah fil ardh menuntut manusia untuk mengelola alam dengan
prinsip rahmah dan maslahah — bukan sekadar keuntungan ekonomi.
Kerusakan
ekosistem gambut adalah pelajaran tentang batas antara kebutuhan dan keserakahan.
Ketika manusia memaksakan produksi tanpa mempertimbangkan daya dukung alam,
maka sistem kehidupan yang seimbang akan runtuh. Dalam konteks spiritual, ini
menjadi tanda bahwa hukum-hukum alam sejatinya adalah hukum Tuhan yang tak
dapat dilanggar tanpa konsekuensi.
Nilai Edukatif
Fenomena
drainase gambut dapat dijadikan bahan ajar terpadu di sekolah dan madrasah.
Guru sains dapat menjelaskan konsep kapilaritas, daya serap air, dan peran
tanah gambut dalam siklus karbon. Guru agama dapat mengaitkan isu ini dengan
ayat-ayat tentang tanggung jawab menjaga bumi. Melalui pendekatan ini, siswa
belajar bahwa sains dan agama bukan dua dunia yang terpisah, tetapi saling
melengkapi dalam menumbuhkan kesadaran ekologis.
Edukasi
lingkungan berbasis Islam perlu menanamkan tiga nilai utama: kesadaran
(awareness), tanggung jawab (responsibility), dan aksi nyata (action). Sekolah
dapat melibatkan siswa dalam proyek konservasi seperti penanaman kembali
vegetasi rawa, pembuatan miniatur sistem kanal alami, atau kampanye hemat air.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan menjadi alat pengabdian kepada Allah dan
sesama makhluk.
Refleksi Islam
Lahan
gambut yang rusak memberi pesan moral yang dalam. Allah menciptakan sistem alam
yang penuh keseimbangan, tetapi manusia sering tergoda untuk mengendalikannya
tanpa hikmah. Kanal yang dibangun untuk memperlancar ekonomi justru menjadi
saluran bencana ekologis. Dalam pandangan Islam, ketidakharmonisan dengan alam
mencerminkan ketidakharmonisan dengan Sang Pencipta.
Refleksi
ini mengajarkan bahwa memperbaiki lingkungan bukan hanya tugas teknokrat,
melainkan ibadah yang bernilai spiritual. Menutup kanal, merestorasi hutan
rawa, dan menjaga air tanah berarti menegakkan kembali fitrah bumi. Setiap
langkah kecil untuk menjaga alam adalah bentuk dzikir yang hidup — pengingat
bahwa manusia hanyalah penjaga sementara di bumi yang suci ini.
Kesimpulan
Drainase
industri di lahan gambut merupakan contoh nyata bagaimana intervensi manusia
dapat mengganggu sistem alam yang kompleks. Sains menjelaskan mekanisme
kerusakan hidrologi dan pelepasan karbon, sedangkan Islam memberikan panduan
etis agar manusia kembali kepada keseimbangan. Keduanya bertemu dalam satu
pesan: bumi harus dijaga, bukan dieksploitasi.
Melalui
pendekatan ilmiah dan spiritual, umat Islam dapat menjadi pelopor konservasi
lingkungan. Restorasi lahan gambut bukan hanya proyek ekologis, tetapi juga
bentuk ketaatan kepada Allah. Seperti air yang mencari jalan kembali ke
sungainya, manusia pun harus kembali pada fitrah: menjadi penjaga bumi yang
beriman dan berilmu.
Daftar Pustaka
FAO.
(2024). Peatland Drainage and Its Global Impact. Food and Agriculture
Organization of the United Nations.
Journal of Hydrology. (2023). Water Table Decline and Peat Oxidation Dynamics.
KLHK. (2025). Laporan Kondisi Lahan Gambut Nasional.
Mongabay. (2025). Corporate Canals and Peatland Degradation in Indonesia.
Nature Climate Change. (2022). Peatland Emissions and Climate Feedbacks.
Quraish Shihab. (2005). Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
Artikel lintas kategori yang disarankan untuk dibaca:
-
Banjir Serius di Bali → Dampak iklim dan pelajaran fitrah alam.
“Air adalah rahmat yang harus dijaga keseimbangannya.” -
Proses Daur Air: Dari Penguapan hingga Hujan → Siklus air dan kebesaran Ilahi.
“Setiap tetes air membawa tanda kasih Allah.” -
Etika Digital dalam Perspektif Islam → Refleksi akhlak di era modern.
“Akhlak adalah keseimbangan jiwa, sebagaimana alam seimbang karena hukum-Nya.”
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.
Baca Profil Lengkap →.png)
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Mari berdiskusi untuk menambah ilmu dan manfaat bersama