- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Artikel Terbaru
Diposting oleh
Anwar
pada tanggal
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pendahuluan
Bali,
pulau yang dikenal dengan keindahan alamnya, pada Oktober 2025 kembali diterpa
bencana banjir besar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
mencatat curah hujan ekstrem mencapai 385 milimeter dalam 24 jam — angka
tertinggi dalam satu dekade terakhir. Hujan deras ini menimbulkan genangan
luas, longsor di daerah hulu, dan lumpuhnya jalur transportasi di beberapa
wilayah seperti Gianyar dan Tabanan.
Fenomena
banjir besar ini bukan peristiwa baru. Dalam dua dekade terakhir, tren curah
hujan ekstrem di kawasan tropis meningkat akibat perubahan iklim global. Namun,
bagi umat Islam, fenomena alam seperti ini tidak hanya dipahami secara ilmiah,
tetapi juga sebagai ayat kauniyah — tanda kebesaran Allah yang mengingatkan
manusia akan keseimbangan ekosistem dan tanggung jawabnya sebagai khalifah di
bumi.
Pembahasan Ilmiah
1) Data dan Tren Curah Hujan Ekstrem
Menurut
data BMKG (2025), curah hujan di Bali meningkat 17% dibandingkan rata-rata
tahunan 2010–2020. Laporan Nature Climate Change (2025) menjelaskan bahwa
pemanasan global sebesar 1,3°C telah memperkuat sirkulasi atmosfer regional,
sehingga menyebabkan fenomena hujan ekstrem lebih sering terjadi di kawasan
Asia Tenggara. Udara yang lebih hangat menahan lebih banyak uap air — setiap
kenaikan suhu 1°C meningkatkan potensi kelembapan sekitar 7%.
Riset
tersebut menunjukkan adanya korelasi antara intensitas badai tropis di Samudra
Hindia dan hujan ekstrem di wilayah Indonesia bagian tengah, termasuk Bali dan
Nusa Tenggara Barat. Akumulasi uap air dari laut yang lebih hangat mempercepat
proses kondensasi dan menghasilkan curah hujan intensif dalam waktu singkat.
Akibatnya, sistem drainase dan sungai yang sempit tidak mampu menampung debit
air, sehingga menimbulkan banjir besar.
2) Dinamika Atmosfer dan Peran Laut Bali dalam Cuaca Ekstrem
Bali
berada di antara dua massa air besar, yaitu Samudra Hindia dan Laut Bali, yang
berperan penting dalam pembentukan pola hujan lokal. Menurut penelitian dari
Universitas Udayana (2024), suhu permukaan laut di wilayah ini meningkat hingga
0,8°C dalam tiga tahun terakhir. Pemanasan ini meningkatkan penguapan dan
memperkuat arus konveksi vertikal, yang akhirnya membentuk awan kumulonimbus
berlapis tebal.
Selain
itu, adanya pertemuan angin monsun barat laut dan angin pasat timur menyebabkan
zona konvergensi yang memicu hujan deras secara tiba-tiba. Fenomena ini dikenal
sebagai “Intertropical Convergence Zone (ITCZ)” lokal. Bila ITCZ bergerak lebih
ke selatan, Bali mengalami peningkatan curah hujan yang ekstrem. Kondisi
atmosfer seperti ini semakin diperparah oleh efek urban heat island di wilayah
perkotaan yang memperkuat pembentukan awan lokal.
3) Dampak Lingkungan dan Sosial
Banjir
yang melanda Bali tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menimbulkan
kerugian ekologis yang signifikan. Menurut laporan BNPB (2025), lebih dari
3.000 hektare sawah terendam, 47 jembatan rusak, dan 1.200 keluarga harus
mengungsi. Selain itu, air banjir membawa lumpur dan limbah padat yang
mencemari sungai dan pesisir.
Secara
ekologis, banjir ekstrem juga mengganggu siklus nutrisi tanah dan menyebabkan
erosi pada daerah tangkapan air. Hutan yang gundul dan pembangunan tanpa
perencanaan tata ruang memperparah dampak bencana. Dalam konteks sosial,
masyarakat Bali yang bergantung pada pariwisata turut merasakan dampak ekonomi,
karena aktivitas wisata alam dan pertanian terhenti.
4) Faktor Penyebab: Antara Alam dan Ulah Manusia
Pakar
hidrometeorologi dari Universitas Udayana menjelaskan bahwa 60% faktor penyebab
banjir Bali adalah kombinasi antara curah hujan ekstrem dan perubahan tata guna
lahan. Daerah resapan air di lereng utara kini berubah menjadi kawasan hunian
dan perhotelan. Kanal drainase yang sempit serta pengelolaan sampah yang buruk
menyebabkan air meluap dengan cepat.
Faktor
global seperti kenaikan suhu laut (La Niña lemah) juga turut memicu pembentukan
awan konvektif yang besar. Kombinasi faktor lokal dan global ini memperlihatkan
bagaimana ulah manusia mempercepat kerusakan tatanan alam. Dalam istilah
ilmiah, ini disebut sebagai “anthropogenic amplification” — peningkatan
ekstremitas alam akibat aktivitas manusia.
5) Upaya Mitigasi dan Adaptasi: Belajar dari Kearifan Lokal
Bali
memiliki warisan budaya lingkungan yang dikenal dengan sistem “Subak” —
jaringan irigasi tradisional yang mengatur aliran air secara kolektif. Sistem
ini tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme distribusi air pertanian, tetapi
juga menjaga keseimbangan ekosistem hulu dan hilir. Ketika prinsip Subak mulai
ditinggalkan, pengelolaan air pun kehilangan keseimbangannya.
Masyarakat
adat di wilayah hulu Bali juga memiliki kearifan menjaga hutan sebagai sumber
air. Dalam perspektif Islam, kearifan semacam ini sejalan dengan konsep ihsan
terhadap alam: melakukan kebaikan bukan karena kewajiban, tetapi karena
kesadaran spiritual. Upaya mitigasi modern dapat mengambil inspirasi dari
sistem tradisional yang terbukti harmonis dengan lingkungan.
Integrasi Nilai Islam
Al-Qur’an
menggambarkan fenomena alam bukan sebagai kutukan, tetapi sebagai pelajaran.
Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS.
Ar-Rum [30]: 41).
Ayat
ini menegaskan bahwa kerusakan ekosistem, banjir, dan bencana alam merupakan
akibat langsung dari ketidakseimbangan yang dibuat manusia. Tafsir Al-Misbah
menjelaskan bahwa kata “fasad” (kerusakan) meliputi aspek ekologis, sosial, dan
moral. Dengan demikian, menjaga alam bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi
juga ibadah — bagian dari amanah manusia sebagai khalifah fil ardh.
Nilai Edukatif
Fenomena
banjir Bali dapat dijadikan bahan pembelajaran lintas disiplin di madrasah atau
sekolah. Guru IPA dapat menjelaskan siklus air, pengaruh suhu terhadap
kelembapan, dan konsep drainase berkelanjutan. Sementara guru agama
mengaitkannya dengan ayat kauniyah tentang tanggung jawab menjaga alam.
Melalui
pendekatan ini, peserta didik tidak hanya memahami sains sebagai konsep
teoritis, tetapi juga sebagai sarana memahami kebesaran Allah. Edukasi
lingkungan berbasis nilai Islam mendorong generasi muda untuk berpikir kritis
sekaligus berakhlak ekologis.
Refleksi Islam
Banjir
di Bali menjadi cermin bahwa manusia sering kali lupa menjaga keseimbangan
antara eksploitasi dan konservasi. Air, yang seharusnya menjadi sumber
kehidupan, berubah menjadi bencana ketika keseimbangan terganggu. Islam
mengajarkan prinsip moderasi — tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya.
Fenomena
ini juga menjadi momentum refleksi bahwa alam memiliki fitrahnya sendiri.
Ketika manusia melanggar hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah, maka
konsekuensinya adalah terganggunya tatanan bumi. Oleh karena itu, bencana bukan
semata murka, melainkan peringatan agar manusia kembali kepada fitrah: menjaga,
bukan merusak.
Tindakan
nyata menjaga lingkungan adalah bentuk ibadah. Dalam Islam, tawakal tidak
berarti pasrah tanpa usaha. Setelah bencana, manusia diperintahkan untuk
memperbaiki dan memulihkan alam, bukan hanya berdoa menolak bala. Kesadaran
ekologis harus berjalan seiring dengan spiritualitas: berikhtiar memperbaiki
alam adalah bukti cinta kepada Sang Pencipta.
Kesimpulan
Banjir
besar di Bali bukan hanya akibat fenomena meteorologis, tetapi juga hasil
akumulasi kesalahan tata kelola lingkungan. Sains menjelaskan prosesnya,
sementara Islam memberikan makna moral di baliknya. Dengan memahami kedua sisi
ini, kita belajar bahwa menjaga keseimbangan alam adalah bentuk ibadah.
Sebagai
umat Islam, kita diajak untuk mengelola bumi dengan tanggung jawab. Melalui
kesadaran ekologis yang bersumber dari iman, setiap hujan deras dapat menjadi
pengingat akan kekuasaan Allah dan ajakan untuk memperbaiki diri. Alam
berbicara dalam bahasa tanda-tanda; tugas kita adalah mendengarkan dan
bertindak dengan bijak.
Fenomena
banjir hendaknya tidak hanya menumbuhkan empati sosial, tetapi juga komitmen
spiritual. Dari sains kita belajar tentang sebab, dari wahyu kita belajar
tentang makna. Bila keduanya berjalan beriringan, manusia dapat hidup
berdampingan dengan alam dalam harmoni fitrah yang diridhai Allah SWT.
Daftar Pustaka
BMKG.
(2025). Laporan Curah Hujan Ekstrem Bali Oktober 2025.
BNPB. (2025). Data Dampak Bencana Banjir Wilayah Bali.
Nature Climate Change. (2025). Tropical Rainfall Intensification in Southeast
Asia.
Quraish Shihab. (2005). Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
The Guardian. (2025). Bali's Worst Floods in a Decade. Environment Report.
Universitas Udayana. (2024). Studi Pemanasan Laut dan Cuaca Ekstrem di Bali.
Artikel lintas kategori yang disarankan untuk dibaca:
-
Volkanik dan Gempa: Tanda Ketegasan Allah → Fenomena geologi dan kekuasaan Ilahi.
“Setiap getaran bumi adalah seruan untuk merenung.” -
Proses Daur Air: Dari Penguapan hingga Hujan → Kajian ilmiah dan spiritual siklus air.
“Air adalah rahmat yang turun dalam keseimbangan.” -
Sains di Balik Penciptaan Manusia → Integrasi biologi dan ayat Qur’an.
“Ilmu membuka mata, iman membuka makna.”
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.
Baca Profil Lengkap →.png)
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Mari berdiskusi untuk menambah ilmu dan manfaat bersama