- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Artikel Terbaru
Diposting oleh
Anwar
pada tanggal
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pendahuluan
Fenomena doomscrolling atau kebiasaan terus-menerus
menelusuri berita negatif telah menjadi masalah global sejak pandemi hingga era
digital saat ini. Pengguna internet dari berbagai kelompok usia mengalami
perubahan pola konsumsi informasi yang drastis: dari membaca berita secara
terjadwal menjadi mengakses berita secara impulsif. Perubahan perilaku ini
terjadi karena kecenderungan manusia yang sangat sensitif terhadap ancaman—baik
ancaman kesehatan, ekonomi, maupun sosial.
Doomscrolling sering dianggap sebagai fenomena sepele dan
tidak berbahaya. Padahal, tanpa disadari, aktivitas tersebut dapat menciptakan
lingkaran kecemasan yang sulit dihentikan. Ketika seseorang membaca berita
buruk, otaknya memicu rasa waspada; namun rasa waspada itu justru membuatnya
ingin mencari lebih banyak informasi. Pada akhirnya, ia terjebak dalam
lingkaran yang melelahkan: semakin banyak informasi negatif yang dibaca,
semakin tinggi kecemasannya, dan semakin sulit ia berhenti men-scroll.
Bagi umat Muslim, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan
kesehatan mental. Ia juga menyentuh aspek penting dalam kehidupan spiritual,
seperti kemampuan menjaga hati, menjaga fokus dalam ibadah, mengatur waktu, dan
mengendalikan hawa nafsu. Islam sejak dulu mengajarkan pentingnya memilah
informasi dan menjaga ketenangan jiwa. Namun dalam era digital, tantangan ini
menjadi semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis
dan berbasis sains.
Pembahasan Ilmiah
1. Makna Doomscrolling dalam Psikologi Digital
Dalam dunia psikologi, doomscrolling dikategorikan sebagai
perilaku kompulsif yang dipicu oleh rasa ingin tahu berlebih terhadap ancaman.
Otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk memprioritaskan informasi
berbahaya karena berkaitan dengan mekanisme bertahan hidup. Hal ini dikenal
dengan istilah negativity bias.
Namun algoritma media sosial memperkuat bias ini dengan
menampilkan konten negatif secara berulang, karena konten tersebut terbukti
membuat pengguna bertahan lebih lama. Semakin lama seseorang berada dalam
aplikasi, semakin banyak data, interaksi, dan iklan yang dapat ditampilkan.
2. Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental dan
Fisiologis
Penelitian terbaru menunjukkan sejumlah dampak serius:
- Peningkatan hormon stres (kortisol) yang menyebabkan
kelelahan mental.
- Inflamasi otak jangka panjang akibat stress
overload.
- Gangguan tidur kronis karena paparan cahaya biru dan
kecemasan sebelum tidur.
- Penurunan fokus jangka panjang akibat overstimulasi
informasi.
- Masalah mood seperti mudah marah, cepat lelah, dan
sensitif.
- Fenomena attention residue, yaitu sisa perhatian yang
terpecah meski seseorang sudah berhenti menggunakan ponsel.
3. Krisis Fokus pada Generasi Digital
Generasi digital kini menghadapi apa yang disebut para ahli
sebagai attention crisis. Perubahan ini tampak dari:
- kemampuan membaca yang menurun,
- ketidakmampuan mendalamkan fokus,
- ketergantungan pada konten cepat dan ringkas,
- meningkatnya kecemasan akibat berita yang terus diperbarui
setiap detik.
WHO bahkan memasukkan digital stress overload dalam daftar
faktor penyebab depresi ringan hingga sedang pada usia produktif. Doomscrolling
memperburuk kondisi tersebut karena pengguna tidak menyadari bahwa otaknya
tidak dirancang untuk menerima informasi negatif dalam volume besar secara
terus-menerus.
4. Mekanisme Adiktif Doomscrolling
Doomscrolling memiliki pola adiksi mirip media sosial
lainnya:
- Reward loops: Otak berharap menemukan “informasi
penting berikutnya”.
- Dopamine dips: Ketika informasi tidak memuaskan
harapan, otak meminta lebih banyak.
- Anxiety-driven seeking: Pengguna mencari berita
sebagai upaya mengurangi kecemasan, padahal justru memperparahnya.
Kombinasi inilah yang membuat doomscrolling sulit dihentikan
meski seseorang tahu bahwa dirinya sedang kelelahan mental.
Integrasi Nilai Islam
Islam telah memberikan landasan kuat dalam mengelola
informasi, menjaga ketenangan hati, dan menghindari hal yang tidak bermanfaat.
1. Menjaga Pandangan dan Informasi — QS. Al-Isra’ 17:36
Ayat ini menekankan bahwa manusia bertanggung jawab atas apa
yang dilihat, didengar, dan diproses oleh hati. Doomscrolling sering kali
membuat seseorang menerima informasi tanpa batas, bahkan yang tidak relevan dan
tidak bermanfaat.
2. Larangan Tenggelam dalam Kesedihan — QS. Ali 'Imran
3:139
Kecenderungan mengonsumsi berita negatif dapat menjerumuskan
seseorang dalam kondisi mental yang rapuh. Islam justru mendorong optimisme,
harapan, dan usaha.
3. Manajemen Waktu dan Ibadah
Dalam Islam, waktu adalah amanah. Rasulullah SAW
memperingatkan bahwa manusia sering tertipu oleh kesehatan dan waktu luangnya.
Doomscrolling mencuri waktu tanpa disadari—bahkan dalam jumlah yang sangat
besar.
4. Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat — HR.
Tirmidzi
Hadis ini menjadi prinsip utama dalam menyaring konsumsi
informasi. Banyak berita, gosip, dan rumor negatif tidak membawa manfaat,
bahkan merusak ketenangan hati.
5. Konsep Sakīnah dalam Islam
Sakinah adalah ketenangan batin yang menjadi tujuan
kehidupan spiritual seorang Muslim. Doomscrolling merusak sakinah karena
memenuhi hati dengan kecemasan yang tidak perlu.
6. Prinsip Tafakkur dan Refleksi
Islam mengajarkan untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran
Allah, bukan menumpuk kabar buruk yang mengganggu pikiran. Tafakkur mengarahkan
seseorang pada kejernihan, bukan kebisingan mental dari gawai.
Nilai Edukatif
Berikut strategi praktis yang dapat diterapkan oleh pelajar,
guru, orang tua, dan masyarakat umum.
1. Habit Replacement
Mengganti kebiasaan membuka media sosial dengan kegiatan
bermanfaat:
- membaca 1 ayat Al-Qur’an,
- berdzikir 10 detik,
- stretching singkat,
- menulis jurnal syukur harian.
2. Aturan 3–1–0 sebelum tidur
- 3 jam sebelum tidur: hindari berita negatif.
- 1 jam sebelum tidur: hentikan semua media sosial.
- 0 perangkat di kamar tidur.
3. Digital Filter Islami
- mute kata kunci pemicu stres,
- unfollow akun negatif,
- ikuti konten yang menenangkan (kajian, sains edukatif, dan
motivasi Qur’ani).
4. Menerapkan Muraqabah Digital
Sadar bahwa Allah mengawasi setiap waktu yang digunakan.
Prinsip ini membantu seseorang lebih selektif.
5. Mode Focus Worship
Saat ibadah, matikan ponsel sepenuhnya. Fokus ibadah dapat
menjadi detoks mental yang sangat efektif.
6. Mindful Browsing
Sebelum membuka aplikasi, tanyakan:
“Apakah ini bermanfaat?”
“Apakah ini menambah pahala atau justru kecemasan?”
7. Mengatur Interval Penggunaan Ponsel
Agar tidak kecanduan, gunakan teknik Pomodoro:
25 menit fokus, 5 menit istirahat tanpa ponsel.
Riset menunjukkan teknik ini sangat efektif mengembalikan
fokus.
Refleksi Islam
Doomscrolling menunjukkan bahwa tantangan terbesar umat hari
ini bukan hanya pada makanan, harta, atau pakaian, tetapi pada informasi. Tidak
semua informasi yang masuk bermanfaat. Sebagian besar justru merusak ketenangan
hati dan menghilangkan keberkahan waktu.
Seorang Muslim perlu menyadari bahwa hatinya adalah wadah
yang harus dijaga. Jika hati dipenuhi ketakutan, kecemasan, dan berita buruk,
maka ibadah pun menjadi berat. Namun jika hati dijaga dari informasi yang tidak
perlu, maka ia akan mudah merasakan kedamaian.
Pengendalian diri dalam era digital adalah bentuk jihad
an-nafs modern. Ia menuntut kehati-hatian, pengawasan diri, dan komitmen
spiritual untuk menjaga hati tetap bersih. Allah menginginkan manusia hidup
dalam ketenangan, bukan ketakutan yang tidak perlu.
Kesimpulan
Doomscrolling merupakan fenomena berbahaya yang mengancam
kesehatan mental, fokus, dan kehidupan spiritual. Sains membuktikan bahwa
konsumsi berita negatif berlebihan dapat merusak otak, memperburuk kualitas
tidur, dan memicu kecemasan kronis. Islam menegaskan pentingnya menjaga
pandangan, waktu, dan hati dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Menghentikan doomscrolling bukan hanya soal mengurangi
penggunaan ponsel, tetapi juga mengembalikan keseimbangan hidup. Langkah
sederhana seperti mengganti kebiasaan scroll dengan dzikir, membatasi waktu
layar, dan menerapkan gaya hidup digital yang sehat dapat membawa perubahan
besar.
Mulailah dengan satu kebiasaan kecil: 10 menit tanpa scroll.
Dari kebiasaan kecil itulah ketenangan akan kembali tumbuh, fokus meningkat,
dan ibadah kembali lebih khusyuk.
Artikel gaya hidup Islami terkait:
-
Digital Detox dalam Perspektif Islam → Manajemen gawai secara Islami.
“Ketenangan hadir ketika kita kembali mengendalikan waktu.” -
Slow Living Islami → Hidup perlahan dengan kesadaran spiritual.
“Kesederhanaan adalah pintu menuju kejernihan hati.” -
Tidur Awal dan Bangun Subuh → Ritme sirkadian dalam Islam.
“Subuh adalah awal keberkahan dan kekuatan jiwa.”
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.
Baca Profil Lengkap →.png)
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Mari berdiskusi untuk menambah ilmu dan manfaat bersama