Artikel Terbaru

Mengapa Langit Tidak Jatuh? Penjelasan Gravitasi dan Ayat Kauniyah

Doomscrolling dan Krisis Fokus: Ancaman Baru bagi Kesehatan Mental dalam Perspektif Sains & Islam

 


Pendahuluan

Fenomena doomscrolling atau kebiasaan terus-menerus menelusuri berita negatif telah menjadi masalah global sejak pandemi hingga era digital saat ini. Pengguna internet dari berbagai kelompok usia mengalami perubahan pola konsumsi informasi yang drastis: dari membaca berita secara terjadwal menjadi mengakses berita secara impulsif. Perubahan perilaku ini terjadi karena kecenderungan manusia yang sangat sensitif terhadap ancaman—baik ancaman kesehatan, ekonomi, maupun sosial.

 

Doomscrolling sering dianggap sebagai fenomena sepele dan tidak berbahaya. Padahal, tanpa disadari, aktivitas tersebut dapat menciptakan lingkaran kecemasan yang sulit dihentikan. Ketika seseorang membaca berita buruk, otaknya memicu rasa waspada; namun rasa waspada itu justru membuatnya ingin mencari lebih banyak informasi. Pada akhirnya, ia terjebak dalam lingkaran yang melelahkan: semakin banyak informasi negatif yang dibaca, semakin tinggi kecemasannya, dan semakin sulit ia berhenti men-scroll.

 

Bagi umat Muslim, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan kesehatan mental. Ia juga menyentuh aspek penting dalam kehidupan spiritual, seperti kemampuan menjaga hati, menjaga fokus dalam ibadah, mengatur waktu, dan mengendalikan hawa nafsu. Islam sejak dulu mengajarkan pentingnya memilah informasi dan menjaga ketenangan jiwa. Namun dalam era digital, tantangan ini menjadi semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis sains.

Pembahasan Ilmiah

1. Makna Doomscrolling dalam Psikologi Digital 

Dalam dunia psikologi, doomscrolling dikategorikan sebagai perilaku kompulsif yang dipicu oleh rasa ingin tahu berlebih terhadap ancaman. Otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk memprioritaskan informasi berbahaya karena berkaitan dengan mekanisme bertahan hidup. Hal ini dikenal dengan istilah negativity bias. 

Namun algoritma media sosial memperkuat bias ini dengan menampilkan konten negatif secara berulang, karena konten tersebut terbukti membuat pengguna bertahan lebih lama. Semakin lama seseorang berada dalam aplikasi, semakin banyak data, interaksi, dan iklan yang dapat ditampilkan.

 

2. Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental dan Fisiologis 

Penelitian terbaru menunjukkan sejumlah dampak serius:

- Peningkatan hormon stres (kortisol) yang menyebabkan kelelahan mental. 

- Inflamasi otak jangka panjang akibat stress overload. 

- Gangguan tidur kronis karena paparan cahaya biru dan kecemasan sebelum tidur. 

- Penurunan fokus jangka panjang akibat overstimulasi informasi. 

- Masalah mood seperti mudah marah, cepat lelah, dan sensitif. 

- Fenomena attention residue, yaitu sisa perhatian yang terpecah meski seseorang sudah berhenti menggunakan ponsel.

 

3. Krisis Fokus pada Generasi Digital 

Generasi digital kini menghadapi apa yang disebut para ahli sebagai attention crisis. Perubahan ini tampak dari:

- kemampuan membaca yang menurun, 

- ketidakmampuan mendalamkan fokus, 

- ketergantungan pada konten cepat dan ringkas, 

- meningkatnya kecemasan akibat berita yang terus diperbarui setiap detik.

 

WHO bahkan memasukkan digital stress overload dalam daftar faktor penyebab depresi ringan hingga sedang pada usia produktif. Doomscrolling memperburuk kondisi tersebut karena pengguna tidak menyadari bahwa otaknya tidak dirancang untuk menerima informasi negatif dalam volume besar secara terus-menerus.

 

4. Mekanisme Adiktif Doomscrolling 

Doomscrolling memiliki pola adiksi mirip media sosial lainnya: 

- Reward loops: Otak berharap menemukan “informasi penting berikutnya”. 

- Dopamine dips: Ketika informasi tidak memuaskan harapan, otak meminta lebih banyak. 

- Anxiety-driven seeking: Pengguna mencari berita sebagai upaya mengurangi kecemasan, padahal justru memperparahnya.

 

Kombinasi inilah yang membuat doomscrolling sulit dihentikan meski seseorang tahu bahwa dirinya sedang kelelahan mental.

Integrasi Nilai Islam

Islam telah memberikan landasan kuat dalam mengelola informasi, menjaga ketenangan hati, dan menghindari hal yang tidak bermanfaat.

 

1. Menjaga Pandangan dan Informasi — QS. Al-Isra’ 17:36 

Ayat ini menekankan bahwa manusia bertanggung jawab atas apa yang dilihat, didengar, dan diproses oleh hati. Doomscrolling sering kali membuat seseorang menerima informasi tanpa batas, bahkan yang tidak relevan dan tidak bermanfaat.

 

2. Larangan Tenggelam dalam Kesedihan — QS. Ali 'Imran 3:139 

Kecenderungan mengonsumsi berita negatif dapat menjerumuskan seseorang dalam kondisi mental yang rapuh. Islam justru mendorong optimisme, harapan, dan usaha.

 

3. Manajemen Waktu dan Ibadah 

Dalam Islam, waktu adalah amanah. Rasulullah SAW memperingatkan bahwa manusia sering tertipu oleh kesehatan dan waktu luangnya. Doomscrolling mencuri waktu tanpa disadari—bahkan dalam jumlah yang sangat besar.

 

4. Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat — HR. Tirmidzi 

Hadis ini menjadi prinsip utama dalam menyaring konsumsi informasi. Banyak berita, gosip, dan rumor negatif tidak membawa manfaat, bahkan merusak ketenangan hati.

 

5. Konsep Sakīnah dalam Islam 

Sakinah adalah ketenangan batin yang menjadi tujuan kehidupan spiritual seorang Muslim. Doomscrolling merusak sakinah karena memenuhi hati dengan kecemasan yang tidak perlu.

 

6. Prinsip Tafakkur dan Refleksi 

Islam mengajarkan untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan menumpuk kabar buruk yang mengganggu pikiran. Tafakkur mengarahkan seseorang pada kejernihan, bukan kebisingan mental dari gawai.

Nilai Edukatif

Berikut strategi praktis yang dapat diterapkan oleh pelajar, guru, orang tua, dan masyarakat umum.

 

1. Habit Replacement

Mengganti kebiasaan membuka media sosial dengan kegiatan bermanfaat:

- membaca 1 ayat Al-Qur’an, 

- berdzikir 10 detik, 

- stretching singkat, 

- menulis jurnal syukur harian.

 

2. Aturan 3–1–0 sebelum tidur 

- 3 jam sebelum tidur: hindari berita negatif. 

- 1 jam sebelum tidur: hentikan semua media sosial. 

- 0 perangkat di kamar tidur.

 

3. Digital Filter Islami 

- mute kata kunci pemicu stres, 

- unfollow akun negatif, 

- ikuti konten yang menenangkan (kajian, sains edukatif, dan motivasi Qur’ani).

 

4. Menerapkan Muraqabah Digital

Sadar bahwa Allah mengawasi setiap waktu yang digunakan. Prinsip ini membantu seseorang lebih selektif.

 

5. Mode Focus Worship  

Saat ibadah, matikan ponsel sepenuhnya. Fokus ibadah dapat menjadi detoks mental yang sangat efektif.

 

6. Mindful Browsing

Sebelum membuka aplikasi, tanyakan: 

“Apakah ini bermanfaat?” 

“Apakah ini menambah pahala atau justru kecemasan?” 

 

7. Mengatur Interval Penggunaan Ponsel 

Agar tidak kecanduan, gunakan teknik Pomodoro: 

25 menit fokus, 5 menit istirahat tanpa ponsel. 

Riset menunjukkan teknik ini sangat efektif mengembalikan fokus.

Refleksi Islam

Doomscrolling menunjukkan bahwa tantangan terbesar umat hari ini bukan hanya pada makanan, harta, atau pakaian, tetapi pada informasi. Tidak semua informasi yang masuk bermanfaat. Sebagian besar justru merusak ketenangan hati dan menghilangkan keberkahan waktu.

 

Seorang Muslim perlu menyadari bahwa hatinya adalah wadah yang harus dijaga. Jika hati dipenuhi ketakutan, kecemasan, dan berita buruk, maka ibadah pun menjadi berat. Namun jika hati dijaga dari informasi yang tidak perlu, maka ia akan mudah merasakan kedamaian.

 

Pengendalian diri dalam era digital adalah bentuk jihad an-nafs modern. Ia menuntut kehati-hatian, pengawasan diri, dan komitmen spiritual untuk menjaga hati tetap bersih. Allah menginginkan manusia hidup dalam ketenangan, bukan ketakutan yang tidak perlu.

Kesimpulan

Doomscrolling merupakan fenomena berbahaya yang mengancam kesehatan mental, fokus, dan kehidupan spiritual. Sains membuktikan bahwa konsumsi berita negatif berlebihan dapat merusak otak, memperburuk kualitas tidur, dan memicu kecemasan kronis. Islam menegaskan pentingnya menjaga pandangan, waktu, dan hati dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

 

Menghentikan doomscrolling bukan hanya soal mengurangi penggunaan ponsel, tetapi juga mengembalikan keseimbangan hidup. Langkah sederhana seperti mengganti kebiasaan scroll dengan dzikir, membatasi waktu layar, dan menerapkan gaya hidup digital yang sehat dapat membawa perubahan besar.

 

Mulailah dengan satu kebiasaan kecil: 10 menit tanpa scroll. Dari kebiasaan kecil itulah ketenangan akan kembali tumbuh, fokus meningkat, dan ibadah kembali lebih khusyuk.

Artikel gaya hidup Islami terkait:
  1. Digital Detox dalam Perspektif Islam → Manajemen gawai secara Islami.
    “Ketenangan hadir ketika kita kembali mengendalikan waktu.”
  2. Slow Living Islami → Hidup perlahan dengan kesadaran spiritual.
    “Kesederhanaan adalah pintu menuju kejernihan hati.”
  3. Tidur Awal dan Bangun Subuh → Ritme sirkadian dalam Islam.
    “Subuh adalah awal keberkahan dan kekuatan jiwa.”
Anwar Syam - Penulis Sains Islam Edu
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami

Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.

Baca Profil Lengkap →
🏠

Komentar