- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Artikel Terbaru
Diposting oleh
Anwar
pada tanggal
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pendahuluan
Perubahan cara manusia belajar di era digital begitu cepat.
Platform yang dulu identik dengan hiburan kini bertransformasi menjadi ruang
belajar alternatif. Salah satu yang paling menonjol adalah TikTok — aplikasi
video pendek yang digunakan lebih dari dua miliar pengguna di dunia. Bagi
Generasi Z, yang tumbuh dalam ekosistem serba visual, TikTok bukan sekadar
hiburan, tetapi juga jendela baru untuk memahami fenomena sains secara singkat
dan menarik.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah video pendek benar-benar efektif dalam
membantu pembelajaran sains, dan bagaimana penggunaannya tetap sejalan dengan
nilai-nilai Islam? Artikel ini mencoba menjawab dua sisi tersebut — antara
edutainment dan ethics, antara visual cognition dan spiritual reflection.
Pembahasan Ilmiah
Dalam perspektif psikologi pendidikan, video pendek mampu
meningkatkan attention span siswa karena memanfaatkan dual coding theory
(Paivio, 1986) dan multimedia learning principles (Mayer, 2021). Kombinasi
teks, gambar, dan narasi audio mampu mempercepat proses penyandian informasi ke
memori jangka panjang.
Penelitian terbaru oleh UNESCO (2024) menyebutkan bahwa konten sains berdurasi
15–60 detik dengan animasi sederhana meningkatkan pemahaman konsep hingga 27%
lebih tinggi dibandingkan metode ceramah tunggal. Hal ini disebabkan oleh
microlearning effect, di mana materi dipecah menjadi potongan kecil yang mudah
dicerna otak.
Namun, efektivitas pembelajaran melalui TikTok sangat bergantung pada desain
konten. Video yang memuat visual eksperimen sederhana — seperti “reaksi baking
soda dan cuka” atau “demonstrasi tekanan udara” — terbukti menarik perhatian
siswa lebih baik dibandingkan narasi teks panjang. Sementara itu, algoritma
TikTok yang berbasis interest feed membuat siswa cenderung menerima materi yang
relevan dengan minatnya. Di satu sisi ini positif, tetapi di sisi lain juga
membuka potensi bias dan disinformasi ilmiah.
Integrasi Nilai Islam
Islam tidak pernah menolak kemajuan teknologi; yang menjadi
kunci adalah niat dan etika penggunaannya. Allah berfirman dalam QS. Al-‘Alaq
[96]: 1-5, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…” — sebuah seruan agar
manusia belajar dengan kesadaran spiritual, bukan sekadar konsumsi pengetahuan.
Mengintegrasikan nilai Islam dalam pembelajaran berbasis video pendek berarti
menanamkan niat belajar lillāhi ta‘ālā, menjaga kesucian konten, serta
menghindari hal yang sia-sia (laghw). Guru dapat mengarahkan siswa untuk
membuat proyek TikTok Edukasi Sains Islami — misalnya eksperimen sederhana
disertai kutipan ayat kauniyah yang relevan. Ini tidak hanya mengajarkan konsep
ilmiah, tetapi juga menumbuhkan rasa kagum terhadap ciptaan Allah.
Nilai Edukatif dan Pedagogis
Penggunaan TikTok untuk belajar sains tidak dapat dilepaskan
dari prinsip literasi digital dan pedagogi abad ke-21. Guru perlu menjadi
fasilitator yang memandu siswa memfilter konten ilmiah dari sumber terpercaya,
sekaligus menanamkan adab digital Islami:
- Tidak mengunggah konten tanpa izin atau tanpa sumber.
- Menghindari trend challenge yang tidak edukatif.
- Menjaga aurat, bahasa, dan gesture dalam video.
- Memastikan niat utama adalah menyebarkan ilmu, bukan mencari popularitas.
Menurut survei Kemendikbud (2024) terhadap 500 siswa SMA/MA di Indonesia, 72%
siswa mengaku lebih termotivasi belajar sains melalui video berdurasi pendek
dibandingkan modul tertulis. Namun, 61% juga mengaku belum memahami etika
digital dalam prosesnya. Artinya, aspek moral harus berjalan berdampingan
dengan inovasi pedagogis.
Refleksi Islam
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa teknologi hanyalah
alat. Nilainya bergantung pada bagaimana manusia memakainya. Dalam konteks
pembelajaran, TikTok dapat menjadi “kitab visual modern” yang mengantarkan
siswa kepada kebesaran Allah, jika dikendalikan dengan ilmu dan iman.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR.
Bukhari & Muslim). Maka, niatlah yang memisahkan antara scrolling kosong
dan scrolling bermakna.
Jika siswa mampu melihat video eksperimen sains sambil bertafakur — bahwa di
balik reaksi kimia ada sunnatullah — maka media digital telah bertransformasi
menjadi sarana dzikir modern. Inilah makna integratif antara akal ilmiah dan
hati spiritual.
Kesimpulan
TikTok dan platform video pendek lain tidak semestinya
dianggap ancaman bagi pendidikan. Justru di tangan generasi muda yang beriman
dan berilmu, media ini menjadi ladang dakwah ilmiah yang luas. Guru, dosen, dan
pembelajar harus menyadari bahwa sains dan Islam sama-sama menuntun manusia untuk
mengenal Tuhannya melalui tanda-tanda ciptaan-Nya.
Dengan pendekatan yang tepat — berbasis niat baik, data ilmiah, dan nilai
Qur’ani — pembelajaran sains di era digital dapat menjadi jembatan antara dunia
maya dan hikmah nyata. Sebagaimana Allah perintahkan dalam QS. Ali Imran [3]:
190–191, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi… terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berpikir.”
Mari jadikan media digital bukan sekadar hiburan, melainkan amal ilmu yang
berbuah pahala.
Artikel lintas kategori yang disarankan untuk dibaca:
-
Fenomena Pasang Surut Air Laut dalam Sains dan Al-Qur’an → Mekanisme gravitasi dan kebesaran ciptaan Allah.
“Air pun tunduk pada hukum-Nya yang sempurna.” -
Rotasi Bumi dalam Sains dan Al-Qur’an → Pergerakan bumi dan makna keteraturan semesta.
“Siang dan malam berganti bukan tanpa hikmah.” -
Etika Digital dalam Perspektif Islam → Menghadirkan akhlak di dunia maya.
“Klikmu adalah cerminan iman dan tanggung jawab moral.”
Anwar
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Guru Madrasah Tsanawiyah | Penulis Edukasi Sains Islami
Anwar adalah pendidik dan penulis di Sains Islam Edu. Ia aktif menulis artikel yang mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, mengajak pelajar memahami ayat-ayat kauniyah sebagai tanda kebesaran Allah.
Baca Profil Lengkap →.png)
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan. Mari berdiskusi untuk menambah ilmu dan manfaat bersama